Mungkin kau berencana pergi,
seperti ruh manusia
tinggalkan dunia membawa hampir semua
kemanisan diri bersamanya
Kau pelanai kudamu
Kau benar-benar harus pergi
Ingat kau punya teman disini yang setia
rumput dan langit
Pernahkah kukecewakan dirimu ?
Mungkin kau tengah marah
Tetapi ingatlah malam-malam
yang penuh percakapan,
karya-karya bagus,
melati-melati kuning di pinggir laut
Kerinduan, ujar Jibril
biarlah demikian
Syam-i Tabriz,
Wajahmu adalah apa yang coba diingat-ingat lagi oleh setiap agama
Aku telah mendobrak kedalam kerinduan,
Penuh dengan nestapa yang telah kurasakan sebelumnya
tapi tiada semacam ini
Sang inti penuntun pada cinta
Jiwa membantu sumber ilham
Pegang erat sakit istimewamu ini
Ia juga bisa membawamu pada Tuhan
Tugasku adalah membawa cinta ini
sebagai pelipur untuk mereka yang kangen kamu,
untuk pergi kemanapun kaumelangkah
dan menatap lumpur-lumpur
yang terinjak olehmu
muram cahaya mentari,
pucat dingding ini
Cinta menjauh
Cahayanya berubah
Ternyata ku perlu keanggunan
lebih dari yang kupikirkan
Minggu, 24 Januari 2010
Keagungan Ilahi (Al Muktashim)
Ratu malam sang rembulan
Raja siang sang matahari
Keduanya selalu bertentangan,
Tarik menarik
Dorong mendorong
Saling menguasai,
Seolah selalu bertanding tiada henti
Tiada yang kalah
Tak ada yang menang,
Karena dengan kedua sifat yang bertentangan ini
Seluruh alam semesta bergerak!
Dunia berputar,
Saling mengisi,
Yang satu melengkapi yang lain
Tanpa yang satu
Takkan ada yang lain,
Siang dan malam
Terang dan gelap
BAik dan jahat
Tanpa yang satu,
Apakah yang lain itu akan ada?
Tanpa adanya gelap,
Dapatkah kita mengenal terang?
Inilah sebuah kenyataan
Yang telah dikenhendaki Allah
Tanpa kehendaknya, takkan terjadi apa-apa
Raja siang sang matahari
Keduanya selalu bertentangan,
Tarik menarik
Dorong mendorong
Saling menguasai,
Seolah selalu bertanding tiada henti
Tiada yang kalah
Tak ada yang menang,
Karena dengan kedua sifat yang bertentangan ini
Seluruh alam semesta bergerak!
Dunia berputar,
Saling mengisi,
Yang satu melengkapi yang lain
Tanpa yang satu
Takkan ada yang lain,
Siang dan malam
Terang dan gelap
BAik dan jahat
Tanpa yang satu,
Apakah yang lain itu akan ada?
Tanpa adanya gelap,
Dapatkah kita mengenal terang?
Inilah sebuah kenyataan
Yang telah dikenhendaki Allah
Tanpa kehendaknya, takkan terjadi apa-apa
Dawai Sang Sufi (Al Futuhat)
Hidup adalah ibadah
Dalam ayat-Nya Allah berfirman,
Wama kholaqtul jinna wal insa illa liya’bududun
Lama aku tidak percaya dengan ayat ini
Fikirku aku hanya disuruh shalat, puasa dan dzikir
Apalagiketika aku berfikir tentang ayat,
Wa’bud robbaka hatta ya’tiyakal yakin,
Demi Allah, aku tidak sanggup untuk beribadah terus menerus…
Aku bingung
Aku takut
Aku lari dari pendapatku sendiri
Suatu hari aku bertanya kepada guruku
Guruku mengatakan, “Tidak salah pendapatmu, tapi kurang”.
Ketahuilah…..
Dalam ayat lain Allah juga berfirman
Wala tansa nasibaka minaddunya
Dan La yukallifullahu nafsan illa wus’aha
Jelas Allah tidak hanya menyuruh kitauntuksholat dan puasa
Allah juga menyuruh kita untukmencari dunia
Bahkan Allah melarang kita untuk membebani diri kita dengan beban yang berat
Sehingga kita tidak mampu memikulnya
Walaupun itu ibadah
Ketauhillah…..
Ibadahitu bukan bentuk lahirnya
Banyak perkara dunia yang berubah menjadi amal dunia karena niat
Banyak perkara yang kadang menurut kita tidak ada nilainya tetapi
Disisi Allah sangat berharga
Engkau makan,minum, tidur, cari nafkah, menikah
Tetapi di niati untuk menguatkan ibadah
Itulah arti Wama kholaqtul jinna wal insa illa liyakbudun
Dan engkau dapat istiqomah sholat, puasa, dzikir
Dengan bantuan makan, minum dan menikah
Itulah artiWa’bud robbaka hatta ya’tiyakal yaqin
Jikaengkau sholat, puasa tetapi tidak makan dan minum
Pasti engkau akan mati
bukankah ini bunuh diri dan jelas tidak ibadah ?
Engkau hanya sholat, puasa dan dzikir tetapi tidak menikah
Sehingga suatu ketika terjerumus zina, apakah arti semua ibadahmu ?
Ingatlah Allah pencipta manusia dengan ukuran dan aturan
Janganlah engkau mempertahankan kebodohanmu
Janganlah engkau hancur hanya karena pemahamanmu yang salah
Dan ingatlah pesan Allah Alladzina yastami’unal qoula
Fayattabi’una ahsanah…..
Orang-orang yang mendengarkan pendapat
Kemudian mengikuti pendapat yang paling bagus
Merekalah yang diberi petunjuk Allah
Dan merekalah orang-orang yang beruntung…..
Dalam ayat-Nya Allah berfirman,
Wama kholaqtul jinna wal insa illa liya’bududun
Lama aku tidak percaya dengan ayat ini
Fikirku aku hanya disuruh shalat, puasa dan dzikir
Apalagiketika aku berfikir tentang ayat,
Wa’bud robbaka hatta ya’tiyakal yakin,
Demi Allah, aku tidak sanggup untuk beribadah terus menerus…
Aku bingung
Aku takut
Aku lari dari pendapatku sendiri
Suatu hari aku bertanya kepada guruku
Guruku mengatakan, “Tidak salah pendapatmu, tapi kurang”.
Ketahuilah…..
Dalam ayat lain Allah juga berfirman
Wala tansa nasibaka minaddunya
Dan La yukallifullahu nafsan illa wus’aha
Jelas Allah tidak hanya menyuruh kitauntuksholat dan puasa
Allah juga menyuruh kita untukmencari dunia
Bahkan Allah melarang kita untuk membebani diri kita dengan beban yang berat
Sehingga kita tidak mampu memikulnya
Walaupun itu ibadah
Ketauhillah…..
Ibadahitu bukan bentuk lahirnya
Banyak perkara dunia yang berubah menjadi amal dunia karena niat
Banyak perkara yang kadang menurut kita tidak ada nilainya tetapi
Disisi Allah sangat berharga
Engkau makan,minum, tidur, cari nafkah, menikah
Tetapi di niati untuk menguatkan ibadah
Itulah arti Wama kholaqtul jinna wal insa illa liyakbudun
Dan engkau dapat istiqomah sholat, puasa, dzikir
Dengan bantuan makan, minum dan menikah
Itulah artiWa’bud robbaka hatta ya’tiyakal yaqin
Jikaengkau sholat, puasa tetapi tidak makan dan minum
Pasti engkau akan mati
bukankah ini bunuh diri dan jelas tidak ibadah ?
Engkau hanya sholat, puasa dan dzikir tetapi tidak menikah
Sehingga suatu ketika terjerumus zina, apakah arti semua ibadahmu ?
Ingatlah Allah pencipta manusia dengan ukuran dan aturan
Janganlah engkau mempertahankan kebodohanmu
Janganlah engkau hancur hanya karena pemahamanmu yang salah
Dan ingatlah pesan Allah Alladzina yastami’unal qoula
Fayattabi’una ahsanah…..
Orang-orang yang mendengarkan pendapat
Kemudian mengikuti pendapat yang paling bagus
Merekalah yang diberi petunjuk Allah
Dan merekalah orang-orang yang beruntung…..
Sabtu, 31 Oktober 2009
:) (TNI, POLRI, KPK, KEJAKSAAN, DPR-RI juga POL-PP)
Kalian adalah lima lembaga negara yang diharapkan berperan aktif, hebat, gentle dalam membangun peradaban yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku rakyat kecil hanya bisa berharap dan berdo'a karena terbatasnya kemampuan maupun kewenangan yang dimiliki. Aku yakin dan percaya sepenuhnya, jikalau kalian bersih dari praktek-praktek KKN, maka senantiasa negeri ini akan segera beres, aman dan damai. Ya Allah bersihkanlah pikiran dan hati para aparatur yang berada didalam ke lima lembaga ini. Kami merindukan aparatur yang Engkau Ridhoi, semoga ya Allah Engkau mengabulkan ini, amin....
Kamis, 11 Desember 2008
TUHAN BARU SANG BAJINGAN
Tuhan Baru Sang Bajingan
(Djoko Su'ud Sukahar )
Ketika melihat presiden dan para gubernur ramai-ramai meneriakkan ‘antikorupsi’ di televisi, ada celetukan bernada sarkasme. Orang Indonesia itu memang kompak. Kebersamaannya patut dipuji. Satu korupsi semuanya serempak korupsi. Dan jika ‘bapaknya’ berteriak antikorupsi, gemuruh deklarasi anti korupsi pun membahana se-Nusantara. Kita memang gampang mufakat. Mufakat untuk berbuat baik dan mufakat melakukan kejelekan.
Namun benarkah ‘permufakatan kebaikan’ yang diteriakkan secara koor itu akan sertamerta menghilangkan tindak korupsi? Rasanya jauh panggang dari api. Korupsi masih akan laten terjadi. Sogok dan suap jadi roda kehidupan. Dan upeti dalam bentuk ‘uang jasa’ serta komisi rutin direalisasi.
Mengapa pesimisme itu menggelayuti hati di tengah gempitanya perang melawan korupsi? Itu lebih karena kenyataan, budaya bangsa ini telah hancur binasa. Persepsi nilai luhur telah jauh bergeser. Dari ‘budaya budi’ yang menekankan keluhuran, kejujuran dan sikap amanah, berubah menjadi ‘budaya materi’ yang mempersepsi harga diri dan gengsi ‘bisa dibeli’.
Di zaman ini memang hampir tidak ada lagi orang yang bangga dengan kemiskinan karena kejujuran dan ketulusan. Dan tidak ada pula yang punya keberanian untuk menolak rezeki yang bukan haknya. Semuanya berlomba dalam semangat ‘sepi ing gawe rame ing pamrih’. Berebut harta melalui cara apa saja. Pameo manusia mati meninggalkan nama dianggap telah usang dan tergantikan dengan ‘manusia mati mewariskan kekayaan’.
Banyaknya ‘kere munggah bale’, orang kaya mendadak dianggap lumrah. Tak disoal kekayaan itu hasil ‘tisani’, tipu sana tipu sini. Malah melacurkan diri demi harta atau ‘makan’ teman sendiri dan korupsi dikonotasikan cerdas. Bangga sebagai bajingan itu terjadi karena kearifan leluhur serta harga diri sebagai bangsa yang beradab sudah sirna.
Simak saja para koruptor yang masuk bui. Mereka terlihat begitu tenang dan berwibawa. Tidak ada rasa risih dan malu ketika diajak bicara kesibukannya di penjara. Juga tidak terlihat beban tatkala tertangkap tangan atau mereview tindak bejatnya di kala rekonstruksi. Itu yang membuat kaya hasil simsalabim jadi trend, yang celakanya jadi mimpi-mimpi mayoritas warga negeri ini.
Kabar pejabat baru mencari kesempatan sudah umum. Cari peluang untuk melakukan ‘tindak tak terpuji’ tidak tabu lagi. Itu karena harta telah menjadi ‘tuhan baru’ yang menjanjikan tahta dan gengsi. Tanda, bahwa cengkeraman virus dekaden telah bersimaharaja melumat bangsa ini.
Kebiasaan buruk yang telah mentradisi itu juga mengubah pandangan masyarakat terhadap nilai keberhasilan atau kegagalan seseorang. Yang masih lurus dan amanah tidak diapresiasi. Jika ada orang yang miskin akibat sikapnya itu, bukan tabik hormat yang diterima, tapi rasa iba dan sinisme. “Kasihan dia, karena jujur tetap miskin dan nggak punya apa-apa sampai pensiun.” Betapa tragisnya, kejujuran telah dianggap sebagai aib. Sikap yang menjijikkan !
Jika sudah seperti itu pandangan ideal hidup dan melakoni hidup sebagian warga negeri ini, adakah bisa ‘disembuhkan’ secara instan? Seberapa kuat teriakan antikorupsi mampu memberikan penyadaran?
Saat ini ditaksir sudah satu atau dua generasi yang terjangkit virus korupsi. ‘Membuang’ semuanya tak mungkin. Langkah penyelamatan adalah amputasi. Memotong bagian yang sudah terinfeksi. Hukuman mati merupakan pilihan. Itu jika tak ingin negeri yang konon gemah ripah ini semakin bangkrut dan terus-menerus dililit kemelaratan.(iy/iy)
(Djoko Su'ud Sukahar )
Ketika melihat presiden dan para gubernur ramai-ramai meneriakkan ‘antikorupsi’ di televisi, ada celetukan bernada sarkasme. Orang Indonesia itu memang kompak. Kebersamaannya patut dipuji. Satu korupsi semuanya serempak korupsi. Dan jika ‘bapaknya’ berteriak antikorupsi, gemuruh deklarasi anti korupsi pun membahana se-Nusantara. Kita memang gampang mufakat. Mufakat untuk berbuat baik dan mufakat melakukan kejelekan.
Namun benarkah ‘permufakatan kebaikan’ yang diteriakkan secara koor itu akan sertamerta menghilangkan tindak korupsi? Rasanya jauh panggang dari api. Korupsi masih akan laten terjadi. Sogok dan suap jadi roda kehidupan. Dan upeti dalam bentuk ‘uang jasa’ serta komisi rutin direalisasi.
Mengapa pesimisme itu menggelayuti hati di tengah gempitanya perang melawan korupsi? Itu lebih karena kenyataan, budaya bangsa ini telah hancur binasa. Persepsi nilai luhur telah jauh bergeser. Dari ‘budaya budi’ yang menekankan keluhuran, kejujuran dan sikap amanah, berubah menjadi ‘budaya materi’ yang mempersepsi harga diri dan gengsi ‘bisa dibeli’.
Di zaman ini memang hampir tidak ada lagi orang yang bangga dengan kemiskinan karena kejujuran dan ketulusan. Dan tidak ada pula yang punya keberanian untuk menolak rezeki yang bukan haknya. Semuanya berlomba dalam semangat ‘sepi ing gawe rame ing pamrih’. Berebut harta melalui cara apa saja. Pameo manusia mati meninggalkan nama dianggap telah usang dan tergantikan dengan ‘manusia mati mewariskan kekayaan’.
Banyaknya ‘kere munggah bale’, orang kaya mendadak dianggap lumrah. Tak disoal kekayaan itu hasil ‘tisani’, tipu sana tipu sini. Malah melacurkan diri demi harta atau ‘makan’ teman sendiri dan korupsi dikonotasikan cerdas. Bangga sebagai bajingan itu terjadi karena kearifan leluhur serta harga diri sebagai bangsa yang beradab sudah sirna.
Simak saja para koruptor yang masuk bui. Mereka terlihat begitu tenang dan berwibawa. Tidak ada rasa risih dan malu ketika diajak bicara kesibukannya di penjara. Juga tidak terlihat beban tatkala tertangkap tangan atau mereview tindak bejatnya di kala rekonstruksi. Itu yang membuat kaya hasil simsalabim jadi trend, yang celakanya jadi mimpi-mimpi mayoritas warga negeri ini.
Kabar pejabat baru mencari kesempatan sudah umum. Cari peluang untuk melakukan ‘tindak tak terpuji’ tidak tabu lagi. Itu karena harta telah menjadi ‘tuhan baru’ yang menjanjikan tahta dan gengsi. Tanda, bahwa cengkeraman virus dekaden telah bersimaharaja melumat bangsa ini.
Kebiasaan buruk yang telah mentradisi itu juga mengubah pandangan masyarakat terhadap nilai keberhasilan atau kegagalan seseorang. Yang masih lurus dan amanah tidak diapresiasi. Jika ada orang yang miskin akibat sikapnya itu, bukan tabik hormat yang diterima, tapi rasa iba dan sinisme. “Kasihan dia, karena jujur tetap miskin dan nggak punya apa-apa sampai pensiun.” Betapa tragisnya, kejujuran telah dianggap sebagai aib. Sikap yang menjijikkan !
Jika sudah seperti itu pandangan ideal hidup dan melakoni hidup sebagian warga negeri ini, adakah bisa ‘disembuhkan’ secara instan? Seberapa kuat teriakan antikorupsi mampu memberikan penyadaran?
Saat ini ditaksir sudah satu atau dua generasi yang terjangkit virus korupsi. ‘Membuang’ semuanya tak mungkin. Langkah penyelamatan adalah amputasi. Memotong bagian yang sudah terinfeksi. Hukuman mati merupakan pilihan. Itu jika tak ingin negeri yang konon gemah ripah ini semakin bangkrut dan terus-menerus dililit kemelaratan.(iy/iy)
